Penyimpangan Posisi

 

 

Pada postingan sebelumnya saya sudah menyinggung tentang datum peta yang kata teman saya adalah sumber masalah dari bergesernya posisi stasiun pengamatan dari survey yang dia lakukan. Setelah menulis postingan tersebut, rasa penasaran saya semakin bertambah: saya ingin tahu seberapa jauhsebenarnya penyimpangan yang terjadi kalau hasil pengukuran posisi geodetis dari GPS dengan datum WGS84 ditransformasikan ke Bessel 1841. Rasa penasaran ini muncul setelah saya mencoba menggambarkan garis pantai hasil translasi/transformasi kawan saya itu (akibat ketidakcocokan posisi geodetik ketika melakukan survey di lapangan) dan posisi stasiun pengamatannya, serta meng-overlay-nya dengan garis pantai full resolution dari GSHHS (Global Self-consistant Hierarchical High-resolution Shorelines). garis pantai yang berwarna biru adalah hasil translasi garis pantai yang dilakukan teman saya, sementara warna hijau menunjukkan garis pantai dari GSHHS. Kotak merah menunjukkan posisi stasiun pengamatan.

Hasilnya tentu saja mengejutkan, karena penyimpangan yang terjadi sangat besar. Apakah benar penyimpangan yang terjadi bisa sebesar itu? Tentu saja ini menjadi pertanyaan yang menarik untuk dilihat lebih jauh. Saya pun mencoba membuat program untuk mentransformasikan posisi geodetik dari datum WGS84 ke Bessel 1841 berdasarkan rumus yang ada di website Peter H. Dana yang sudah saya sebutkan dalam tulisan sebelumnya. Selanjutnya, setelah melakukan pengujian untuk meyakinkan bahwa program yang saya buat sudah benar, saya mencoba untuk melihat berdasarkan lintang pergeseran yang terjadi dari posisi geodetik dengan datum yang berbeda itu (pergeseran posisi bujur relatif sangat kecil). Saya dapatkan bahwa pergeseran terbesar terjadi di lintang menengah (lihat gambar).

Untuk lebih meyakinkan lagi, saya pun menggunakan software lain yang tersedia bebas di dunia maya yaitu Geotrans. Secara umum hasilnya hampir sama saja. Adapun untuk daerah dekat ekuator penyimpangan yang terjadi maksimum hanya sekitar 1″ atau sekitar 30 meter saja.

Dari hasil utak-atik seperti itu, timbul pertanyaan: kenapa hasil survey kawan saya itu memberikan posisi geodetik yang jauh berbeda (hingga ratusan meter)? Apakah hal ini terjadi karena kesalahan GPS yang digunakan? Masalahnya, ketika coba dioverlay dengan data garis pantai dari Dishidros TNI AL pun hasilnya hampir sama dengan gambar di atas. Ada yang bisa menjelaskan?

Artikel Ini di tulisan dari : Agus Setiawan

di Copy dari :http://oseanografi.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: