Berapa Jumlah Sampah di Teluk Jakarta

 

Dalam hal penangan sampah kadang kita cenderung untuk tidak perduli, yang terpenting buat kita adalah mengenyahkannya sejauh mungkin dari depan hidung kita…

Seberapa banyakkah sampah yang menyebar dan tertumpuk di Teluk Jakarta saat ini? Sejauh ini, setahu saya, belum ada studi yang benar-benar membahas masalah ini secara serius. Saya telah mencoba untuk mencari data penyebaran sampah di Teluk Jakarta yang bersumber dari beberapa muara sungai yang ada, tetapi ternyata sangat sulit untuk mendapatkannya.

Di media massa versi online, ada banyak berita yang mengabarkan tentang banyaknya sampah di Teluk Jakarta, tapi hanya beberapa yang menyebutkan jumlahnya dalam angka, sementara sisanya hanya mengatakan bahwa di Teluk Jakarta banyak sampah. Sayangnya, angka-angka yang disebutkan oleh beberapa media massa tersebut malah justru membuat saya bertambah bingung karena berbeda-beda, bahkan ada yang ekstrim dan sepertinya ngawur.

Timeasia dalam beritanya tanggal 2 Oktober 2006 mengatakan bahwa sekitar 70% atau 1200 meter kubik (setara dengan 288 ton) sampah di Jakarta di buang ke sungai-sungai setiap harinya, dimana sebagian besar adalah ke Muara Angke. Sayangnya, dalam berita itu tidak disebutkan dari mana angka itu didapatkan. Dalam berita lain di Kompas 19 Juni 2006, Bupati Kepulauan Seribu mengatakan bahwa volume sampah di Teluk Jakarta mencapai 300 meter kubik per hari (setara dengan 72 ton), seperempat dari apa yang dibeberkan oleh Timeasia. Apakah mungkin dalam waktu hanya sekitar 3 bulan, jumlah sampah yang masuk ke Teluk Jakarta meningkat sebegitu drastisnya, dari 300 ke 1200 meter kubik per hari? Sepertinya mustahil, saya lebih percaya bahwa data yang diberikan oleh mereka kurang akurat dua-duanya.

Selanjutnya, dalam berita di Suara Karya Online tanggal 13 Mei 2006, Poltak U. Sitinjak, Direktur PT. Asiana Technologies Lestary, sebuah perusahaan yang memroduksi mesin penjaring sampah, mengatakan bahwa sampah yang dialirkan oleh Sungai Ciliwung, Banjir Kanal Barat, Kali Sunter, dan Kali Pesanggrahan berton-ton jumlahnya, tanpa dirinci lebih lanjut berapa ton persisnya. Ini jelas membingungkan, karena 1 kilo pun bisa kita konversi ke dalam ton menjadi 0,001 ton. Di lain berita, Kompas 11 Oktober 2004 yang dimuat dalam FishyForum menyebutkan bahwa jumlah sampah yang dibuang ke 13 sungai yang bermuara di Teluk Jakarta adalah 7000 ton/hari. Angka ini jelas sangat ekstrim (dan bisa jadi ngawur), karena menurut BPLHD Jakarta, total produksi sampah domestik di DKI Jakarta sekitar 6000 ton/hari, dimana sekitar 85% dari jumlah tersebut mampu diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sementara 15% sisanya tercecer di selokan, sungai, lahan kosong, dan jalan-jalan. Data lain dari WALHI juga menyebutkan angka produksi sampah yang hampir sama dengan data BPLHD tersebut. Sementara itu, dalam berita di Liputan 6 SCTV 14 Mei 2006 disebutkan bahwa beban sampah yang masuk ke Teluk Jakarta sekitar 500 ribu ton/tahun atau setara dengan 1370 ton/hari. Menurut Wakil Kepala Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta, I. Malik, dalam seminar “Pengendalian Pencemaran Laut di Kepulauan Seribu” di Jakarta, Rabu (13/12/2006), hingga kini volume sampah yang masuk ke Teluk Jakarta mencapai 600 meter kubik (atau setara dengan 144 ton) per hari (sumber: ANTARA).

Dari sini, kita bisa melihat bahwa data sampah yang dibuang ke Teluk Jakarta sangat simpang siur dan cukup membingungkan. Mana yang benar dari data itu, kita tidak tahu pasti.

Dalam berita lain di Tempointeraktif tertanggal 26 April 2005, Kepala Sub Dinas Kebersihan Bagian Teknik Operasional DKI Jakarta mengatakan bahwa masalah sampah di Teluk Jakarta sampai saat ini belum ada pemecahannya, bahkan lembaga mana yang harus bertanggung jawab pun masih tidak jelas. Sebuah pernyataan yang “ajaib” untuk kota bakal “megapolitan” nan modern dan megah bernama Jakarta. Lebih jauh beliau juga mengatakan bahwa sampah-sampah yang ada di Teluk Jakarta itu kemungkinan besar berasal dari daerah lain. Nah kalau yang ini sih bisa disebut sebagai komentar “cuci tangan”.

Ketika masih menjadi mahasiswa dan melaksanakan kerja praktek di Muara Karang sekitar tahun 1993, selama seminggu lebih saya tinggal di penginapan kumuh dekat perkampungan nelayan. Menurut pengalaman dan pengamatan saya, sebagian besar nelayan memang terbiasa untuk membuang sampah-sampah yang ada (seperti tas plastik, pembungkus nasi, botol minuman, bahkan oli bekas) secara sembarangan ke sungai atau laut. Akibatnya, di tempat dimana perahu-perahu mereka biasa ditambatkan biasanya penuh dengan sampah. Belum lagi, sebagian besar rumah yang berada di sana pun membuang sampahnya ke lahan kosong yang ada di sekitar mereka, yang bila datang air pasang akan melayang kemana-mana, dan akan terseret ke laut ketika air laut kembali surut.

Di tahun 1999, ketika saya punya penelitian di Kepulauan Seribu dan sering mondar-mandir dari dermaga Ancol ke Pulau Kelapa, sampah memang cukup mudah untuk bisa kita temukan di pinggir pantai di Teluk Jakarta, terutama sampah plastik. Di Pulau Kelapa sendiri, salah satu pulau di Kepulauan Seribu dengan jumlah penduduk yang cukup padat, sampah juga cukup banyak bertebaran di mana-mana. Tidak hanya itu, di saat sunrise atau sunset, banyak penduduk di pulau itu (lelaki perempuan) yang asyik “nongkrong” di tepi pelabuhan untuk buang air besar. Sebenarnya ada fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) yang sudah dibangun oleh pemerintah di sana, tetapi menjadi terbengkalai karena jarang ada penduduk yang mau menggunakannya. Belum lagi tumpahan minyak berwarna hitam yang kerap kali nampak di permukaan air yang tidak jelas dari mana sumbernya, yang oleh sebagian besar warga dianggap biasa-biasa saja.

Dari fakta yang ada ini, jelaslah bahwa masalah utama yang menyebabkan banyaknya sampah yang dibuang sembarangan adalah karena kebiasaan buruk dan ketidakperdulian warganya sendiri. Dan hal itu tidak hanya ditemukan di Jakarta saja tetapi juga di Kepulauan Seribu (bahkan mungkin di seluruh Indonesia, kalau kita mau membahasnya dalam skala nasional). Artinya, bisa jadi sampah yang banyak ditemukan di Kepulauan Seribu, yang jarak terdekatnya dengan Jakarta sekitar 15 km itu, bukan hanya dari sungai yang bermuara di Teluk Jakarta saja, tetapi juga dari sampah yang dibuang masyarakat yang tinggal di Kepulauan Seribu.

Nah sekarang, bagaimana mengatasinya? Sebetulnya mudah saja, tapi ya tergantung niat juga sih. Buat saja program yang terencana dengan baik dan harus dijalankan dengan konsisten dan terus menerus, alias bukan hanya sekedar pilot project atau proyek percontohan yang konyol dan seringkali hanya jadi trend sesaat yang lazim terjadi di Indonesia. Long life program gitu loh maksud saya! Nah, cuman yang susah ya bikin programnya itu, apalagi kalau gak ada duitnya, mendingan pergi studi banding aja terus yang sudah jelas ada alokasi dananya…

Ditulis Oleh: Agus Stiawan
http://agusset.wordpress.com/about/

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: